BERITA  

Kharisma Khairunnisaa, Wakili Kabupaten Tanah Datar dan Sumbar, Guru Inklusif Tembus Tingkat Nasional

filter: 0; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; captureOrientation: 0; hdrForward: 0; shaking: 0.024745; highlight: 1; motionR: 65536; algolist: 0; multi-frame: 1; brp_mask: 8; brp_del_th: 0.0000,0.0000; brp_del_sen: 0.1300,0.0000; delta:1; bokeh:1; ispap:1; papproctime: 2026:09:10 16:21:59; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 3145728;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 283.87195;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 65536;weatherinfo: weather:null, icon:null, weatherInfo:100;temperature: 34;zeissColor: bright;
Tanah Datar, Startingjournalt.com-Kharisma Khairunnisaa guru kelas lima di SD Negeri 03 Sungayang, Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar, merupakan peserta pendidikan pelatihan pendidikan inklusif dari GTK Dikmendiksus yang bekerjasama dengan LPDP dan Hiroshima University Jepang. Rima, panggilan akrab sehari-harinya adalah satu-satunya peserta tingkat Sekolah Dasar dari Provinsi Sumatera Barat yang ikut mewakili kegiatan ini.
“Awalnya saya buka instragram GTK Dikmendiksus (Kementerian Pendidikan Menengah dan Khusus) dan mendatkan info dari rekan-rekan sejawat, lalu saya mendaftar ikut wawancara dengan peserta 500 orang dari seluruh Indonesia. Ternyata, saya lulus dalam wawancara, dari 500 peserta tinggal 120 orang yang lulus administrasi, kemudian dari 120 orang tinggal 60 orang, dan dari 60 orang setelah di seleksi lagi tinggal 30 orang dan salah satunya saya,” jelas Rima.
Kemudian, yang 30 orang ini baru ikut diklat selama seminggu di Jakarta Selatan.
“Kami berharap dari hasil diklat ini outputnya adalah setiap sekolah semoga bisa menjadi sekolah inklusif, artinya sekolah yang tidak membedakan latar belakang anak didik termasuk kemampuan seperti tuna Daksa (fisik) tuna rungu, tuna grahita termasuk juga tuna wicara dan memberikan pelayanan dengan hati untuk semua anak. Yang kami pelajari adalah perspektif global, dimana semua sekolah itu tidak ada perbedaan dalam menerima murid,” lanjutnya.
Kami berharap, ilmu ini bisa kami aplikasikan di sekolah saya khususnya dan juga di seputaran atau di gugus kami, secara umunya Tanah Datar. Juga kepada pemerintah daerah, kami ingin adanya dukungan seperti fasilitas didik, seperti di sediakannya konsultasi psikolog atau terapis, ungkap Rima.
Lebih lanjut, Rima juga menjelaskan bahwa peserta dari pelatihan ini merupakan guru-guru yang sedang atau telah menyelesaikan pendidikan inklusif tingkat mahir.
Gustiwarman, S
Pd, selaku Kepala UPT SD Negeri 03 Sungayang, sangat bangga kepada jajarannya karena telah berhasil tembus dan ikut diklat GTK Dikmendiksus tersebut.
“Alhamdulillah, guru kita berhasil meraih prestasi tersebut, namun kami juga berharap kepada Pemkab agar memfasilitasi peralatan untuk anak didik inklusi ini. Sebab di anggaran dana BOS sendiri terbatas. Memang dulu ada dana khusus untuk anak inklusif namun saat ini tidak ada lagi,” tutur Gustiwarman.
Muharmaini, S. Pd, M. M, pengawas satuan Pendidikan wilayah kerja Sungayang apresiasi atas prestasi ini.
“Kami berharap kepada guru-guru yang muda, memberikan ruang yang lebih luas untuk mengikuti kegiatan inklusif ini lebih intens lagi. Kepada kepala sekolah di wilayah binaan, tetap memberikan pelayanan khusus terhadap anak iklusif,” ujarnya.
Mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar, Kepala Bidang (Kabid) SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Zulhermi, S. Ag menyampaikan apresiasi dan supportnya atas prestasi dan kemampuan Kharisma Khairunnisaa mewakili Tanah Datar dan lulus menjadi guru pendamping khusus.
“Sehubungan dengan guru kita atas nama Rima kembali dari bimtek Pendidikan inklusif melalui seleksi yang ketat dan alhamdulillah akhirnya lulus. Mudah-mudahan apa yang ia peroleh dari bimtek tersebut bisa di aplikasikan ilmunya di komunitas guru ULD (Unit Layanan Disabilitas) di Tanah Datar, sehingga penanganan anak-anak kita yang di kategorkan inklusif mendapatkan layanan yang maksimal dan optimal di dalam mengikuti proses pembelajaran dan berinteraksi sesama mereka di lingkungan sekolah maupun sosial,” jelas Kabid SD tersebut.
“Kami juga berharap ini bisa menghindari bulying terhadap sesama Anak-anak itu sendiri. Kami dari Dinas sangat mendukung dan memfasilitasi ruang dan waktu untuk mempersamai pendidikan inklusif dalam bentuk pertemuan, diskusi maupun pelatihan. Jika kemampuan daerah deri segi finansial mendukung, mungkin akan di adakan study banding atau melakukan pelatihan dari tenaga khusus untuk secara menyeluruh di Tanah Datar, sejalan dengan visi dan misi bunda PAUD Lise Eka Putra yang selalu menghimbau agar pendidikan ULD berjalan dengan cepat dan tepat,” pungkas Zulhermi. (KT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *