BERITA  

Jaga Keaslian, Tari Mulo Pado Tampil Pada PKD Sumatera Barat 2026

filter: 0; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; captureOrientation: 0; hdrForward: 5; shaking: 0.006186; highlight: 1; motionR: 65536; algolist: 0; multi-frame: 1; brp_mask: 8; brp_del_th: 0.0051,0.0000; brp_del_sen: 0.1300,0.0000; delta:1; bokeh:1; ispap:1; papproctime: 2026:09:29 15:46:49; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 7864320;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 175.91133;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: weather:null, icon:null, weatherInfo:100;temperature: 35;zeissColor: bright;

Padang, Startingjournalt.com-Pelaksanaan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat 2026 Saraso Fest yang di laksanakan di Taman Budaya Sumatera Barat, di ikuti oleh salah satu sanggar dari Kabupaten Tanah Datar, Sanggar Mulo Pado, Nagari Padang Lagek Kabupaten Tanah Datar

Pada kesempatan itu, Martion selaku pembina sanggar sekaligus kepala Jorong Gantiang, Padang Magek menyampaikan bahwa kegiatan ini di berikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar.

“Sanggar Mulo Pado ini mendapatkan bantuan pemerintah Daerah sudah ke beberapa kali. Tiga kali ke kota Padang, tiga kali ke Padang Panjang dan sekali ke Kota Pekan Baru dan hari ini juga tampil kembali di Taman Budaya pada kegiatan Pekan Budaya Daerah. Sanggar kami berdiri pada tahun 1985. Ini sudah regenerasi ke empat dan alhamdulillah walau di tengah maraknya seni kontemporer namun seni tradisional kita tetap eksis dan bertahan sampai sekarang,” jelas Martion.

Lebih lanjut, Martion menambahkan bahwa saat ini, sanggar Mulo Pado ikut pada pertunjukan keaslian tari tradisional.

“Kami mewakili Kabupaten Tanah Datar ikut pertunjukan keaslian (orisinalitas) tari Mulo Pado. Artinya, keaslian menggambarkan tentang asal muka kedatangan nenek moyang dari puncak Marapi, yang kemudian menetap di Nagari Padang Magek hingga turun temurun sampai sekarang, melalui tari kita gambarkan dalam bentuk gerakan,” lanjutnya.

Tari Mulo Pado ini juga mengisahkan tiga tokoh adat legenda Minangkabau yang di kenal dengan Ninik mamak Nan Batigo.

“Yang pertama, Dt. Maharajo Dirajo, yang kedua, Dt. Katumanggungan lalu yang terakhir Dt. Parpatiah Nan Sabatang. Mulo ado yang artinya awal mula dari Mulo Pado. Tari ini juga mengisahkan terbentuknya permukiman Nagari Padang Magek yang terletak di Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar,” sambungnya.

Saat ini kami memang lagi membutuhkan sarana prasarana untuk menunjang kegiatan kami, kami berharap dengan berkolaborasi antara dinas Pendidikan dan Kebudayaan baik pusat, provinsi maupun kabupaten, akan selalu memperhatikan sanggar tradisional yang ada di Sumatera Barat khususnya Sanggar Mulo Pado dari Kabupaten Tanah Datar.

“Sekali lagi kami ucapkan terimakasih kepada stakeholder yang telah membantu kami terkhususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar dan Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat hingga kegiatan kami bisa terlaksana dengan baik,” pungkas Martion. (KT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *