BERITA  

Dr.Alfi Hidayati, M. PD: Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Bersama

Tanah Datar, Startingjournalt.com-Kegiatan Focus Group Disccusion (FGD) oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bersama Ibunda Guru, di laksanakan Kamis (24/9) di gedung Dharma Wanita, Indo Jolito Batusangkar. Hadir pada kegiatan ini selain Ibunda Guru PGRI Tanah Datar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar, Kepala Kemenag Kabupaten Tanah Datar, Ketua PGRI Kabupaten Tanah Datar, Ketua LKAM Tanah Datar, Kepala Cabdin Wilayah IV provinsi Sumatera Barat beserta peserta seluruh pengurus PGRI Kabupaten Tanah Datar dan cabang.

FGD yang bertemakan membangun komitmen bersama dan political will untuk penguatan PGRI sebagai Organisasi Profesi Guru yang bermakna, bermartabat dan menjadi Mitra strategis pemerintah dPutra ini merupakan agenda kegiatan perdana setelah Ibunda Guru di lantik.

Dr. Alfi Hidayati, M.Pd, selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar pada kesempatan itu menyampaikan berapa pentingnya peran guru dalam mengembangkan potensi pendidikan karakter anak bangsa.
“Tema kegiatan kita hari ini mengandung pesan yang sangat kuat. Ada tiga kata kunci yang ingin kita bangun, bersinergi, memuliakan guru dan Tanah Datar berkualitas. Pendidikan tidak mungkin menjadi tanggung jawab satu dinas atau satu lembaga saja. Pendidikan adalah
tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan masyarakat. Dinas Pendidikan
membutuhkan dukungan guru. Guru membutuhkan dukungan organisasi profesi. Sekolah membutuhkan
dukungan orang tua dan anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
Karena itu, kegiatan FGD ini sangat penting untuk mempertemukan berbagai kekuatan pendidikan dalam satu meja dan satu tujuan,” papar Alfi Hidayati.
Lebih lanjut, kata Alfi Hidayati, PGRI memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan guru dan pendidikan Indonesia.Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar, PGRI harus ditempatkan sebagai mitra
strategis dalam pembangunan pendidikan.
“PGRI memiliki kemampuan untuk menyerap aspirasi guru, memperkuat profesionalitas, meningkatkan kompetensi, menjaga marwah profesi, menyampaikan gagasan, serta ikut mengawal kebijakan pendidikan. Karena itu, saya ingin membangun hubungan Dinas Pendidikan dan PGRI yang semakin terbuka dan produktif.
Bila ada persoalan, kita duduk bersama. Bila ada aspirasi kita dengarkan. Bila ada kebijakan yang perlu diperbaiki, kita kaji bersama. Bila ada inovasi kita
dukung bersama,” sambungnya.
“Kalau kita ingin meningkatkan mutu pendidikan, maka salah satu hal utama yang harus kita lakukan adalah memuliakan guru. Memuliakan guru bukan sekadar
memberikan penghargaan. Memuliakan guru berarti menghargai profesinya, meningkatkan kompetensinya, memberikan kesempatan berkembang, menciptakan lingkungan kerja yang baik, memberikan perlindungan sesuai ketentuan, mendukung inovasi,serta menghargai pengabdiannya,” lanjut Alfi.
“Tetapi pada saat yang sama, kemuliaan profesi guru
harus berjalan bersama, profesionalitas, integritas, tanggung jawab dan keteladanan. Kita ingin guru Tanah
Datar menjadi guru yang kompeten, berintegritas, berkarakter, adaptif, inovatif dan menjadi teladan
bagi peserta didik,” imbuh Alfi.
Guru adalah investasi terbesar pendidikan.
“Kita dapat membangun gedung sekolah. Kita dapat menyediakan teknologi. Kita dapat membuat berbagai
program. Tetapi semua itu tidak akan memiliki arti yang maksimal tanpa guru yang berkualitas. Karena itu saya
ingin mengatakan Investasi terbaik dalam pendidikan adalah investasi pada manusia, dan investasi paling
strategis dalam pendidikan adalah meningkatkan kualitas
guru,” ujar Alfi Hidayati.
Guru yang baik tidak hanya mengajarkan ilmu, lanjutnya, guru
membangun karakter. Guru menumbuhkan harapan.Guru membuka masa depan. Guru bahkan sering menjadi orang pertama yang meyakinkan seorang anak bahwa dirinya mampu meraih cita-cita.
Sinergi dengan Kementerian Agama
Pendidikan yang berkualitas tidak hanya melahirkan anak yang pintar.Kita ingin melahirkan anak yang, cerdas, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, toleran, peduli dan bertanggung jawab.
“Karena itu sinergi dengan Kementerian Agama sangat penting dalam memperkuat pendidikan karakter dan
nilai-nilai keagamaan. Kita ingin kecerdasan berjalan
bersama akhlak. Kemajuan berjalan bersama nilai.Teknologi berjalan bersama etika,” sambungnya
Sinergi dengan LKAAM
Tanah Datar memiliki kekayaan adat dan budaya yang
luar biasa.Kita tidak ingin anak-anak kita menjadi generasi yang menguasai teknologi tetapi kehilangan jati diri. Kita ingin mereka menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, baik secara
karakter dan kokoh dalam budaya.
Nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau harus menjadi salah satu kekuatan dalam membangun karakter generasi muda Filosofi: “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” memiliki nilai yang sangat penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang berkarakter,
sesuai konteks pendidikan dan ketentuan yang berlaku.
Peran Ibunda Literasi
Literasi tidak boleh hanya menjadi gerakan sekolah. Literasi harus menjadi gerakan keluarga dan masyarakat.
Karena itu peran Ibunda Literasi sangat penting. Kita harus membekali anak agar tidak hanya mampu menerima informasi, tetapi juga mampu memeriksa, memahami, menilai dan menggunakan informasi secara nyata.
“Kita ingin membangun budaya membaca bukan karena
diperintah, tetapi karena menjadi kebutuhan. Literasi
hari ini juga tidak hanya membaca dan menulis. Anakanak kita harus memiliki literasi digital, literasi
informasi, literasi finansial, literasi budaya dan
kemampuan berpikir kritis bijak,” ungkap Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar tersebut.
Lebih lanjut, Alfi juga menjelaskan tentang tantangan guru di era digital dan Air.
“Kita sedang memasuki era perubahan yang sangat cepat. Teknologi berkembang. Media sosial berkembang.
Kecerdasan buatan berkembang. Cara anak mendapatkan informasi berubah. Karena itu guru juga harus terus berkembang Kita tidak boleh takut terhadap teknologi. Tetapi kita juga
tidak boleh menyerahkan pendidikan kepada teknologi. Karena Teknologi dapat memberikan informasi, tetapi
guru memberikan keteladanan, nilai dan sentuhan kemanusiaan. Maka guru harus menjadi Guru
Pembelajar, Guru Adaptif, Guru Digital, Guru Inovatif dan Guru Berkarakter,” jelas Alfi.
Terakhir, Alfi Hidayati memaparkan bahwa guru harus punya komitmen bersama.
“Mari kita sepakati lima komitmen:
Pertama, menguatkan PGRI sebagai mitra strategis dalam
pembangunan pendidikan. Kedua memuliakan guru dengan meningkatkan profesionalitas, kompetensi dan perlindungannya sesuai ketentuan. Ketiga, membangun sinergi pendidikan antara Pemerintah Daerah, KCD Wilayah IV, Kementerian Agama, PGRI,
LKAAM dan masyarakat,” pungkasnya. (KT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *