Tanah Datar, Startingjournalt.com-Ada yang perlahan hilang dari kehidupan kita. Bukan hanya bangunan-bangunan tua
yang mulai rapuh dimakan waktu, tetapi ruang tempat manusia belajar mengenal dirinya
sendiri. Kita hidup di zaman yang serba cepat, saling terhubung melalui teknologi, tetapi
semakin banyak orang merasa lelah, cemas, kesepian, dan kehilangan tempat untuk
benar-benar didengar.
Di tengah semua itu, mungkin kita lupa bahwa leluhur kita pernah
memiliki sebuah ruang yang bukan hanya mengumpulkan orang, tetapi juga merawat
manusia. Ruang itu bernama surau.
Bagi masyarakat Minangkabau, surau tidak pernah sekadar menjadi tempat ibadah. Surau
adalah sekolah kehidupan.
Di sanalah anak-anak belajar membaca, pemuda menempa
disiplin melalui silek, orang tua mewariskan cerita dan petatah-petitih, seni tumbuh
melalui kaba dan dendang, musyawarah menemukan jalan keluar, dan pengetahuan
tentang alam diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di surau, ilmu,
budaya, spiritualitas, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari tidak berdiri sendiri. Semuanya
saling menguatkan dalam satu ruang yang sama.
Cara masyarakat Minangkabau dahulu merawat kesehatan lahir dari cara mereka
memahami kehidupan sebagai satu kesatuan yang utuh antara manusia, alam, budaya,
dan spiritualitas. Pengetahuan tersebut tercermin dalam berbagai praktik keseharian,
seperti mengonsumsi dadiah, pangan fermentasi tradisional yang kaya akan bakteri baik
untuk menjaga kesehatan pencernaan; menikmati serobat, racikan rempah seperti jahe,
serai, kayu manis, cengkeh, dan pala untuk menghangatkan tubuh serta memulihkan
tenaga; serta memanfaatkan aroma daun, bunga, dan rempah sebagai bentuk aromaterapi alami yang membantu menghadirkan ketenangan dan keseimbangan batin.
Mereka mungkin tidak mengenal istilah well-being, mental health, atau mindfulness,
tetapi mereka memahami bahwa kesehatan tidak hanya berarti terbebas dari penyakit,
melainkan terciptanya harmoni antara tubuh, pikiran, jiwa, hubungan sosial, dan alam.
Melalui pameran Hadirnyo Surau Kami, kami tidak sedang mengajak pengunjung
bernostalgia terhadap masa lalu.
Kami ingin mengajak kita semua melihat kembali bahwa
banyak nilai yang masih relevan untuk kehidupan hari ini. Ketika seni bertemu tradisi,
ketika budaya berdialog dengan ilmu pengetahuan, dan ketika pengalaman leluhur
dipertemukan dengan pendekatan kesehatan modern, lahirlah ruang belajar baru yang
tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga menghadirkan kesadaran. Bahwa merawat
kesehatan tidak selalu dimulai dari ruang perawatan, ruang berkesenian, ruang berbagi cerita, dan ruang yang membuat seseorang merasa
diterima.
Kolaborasi antara Surau Kreatif dan Universitas Baiturrahmah lahir dari keyakinan yang
sama: kesehatan fisik dan kesehatan mental adalah bagian dari kehidupan yang utuh.
Keduanya tidak hanya dipengaruhi oleh pelayanan kesehatan, tetapi juga oleh budaya,
hubungan sosial, lingkungan, kreativitas, dan makna hidup yang kita bangun bersama.
Karena itu, pameran ini tidak hanya menghadirkan karya seni atau jejak sejarah, tetapi
juga menghidupkan kembali gagasan bahwa tradisi dapat menjadi sumber pembelajaran,
pemulihan, dan harapan bagi masyarakat masa kini.
Sebelum Anda melangkah memasuki ruang pamer ini, kami mengundang Anda untuk
berhenti sejenak. Barangkali yang sedang kita cari selama ini bukan sesuatu yang benarbenar baru. Mungkin yang kita rindukan adalah sebuah ruang tempat manusia kembali
belajar mendengar, belajar merawat, belajar berkarya, dan belajar pulang kepada dirinya
sendiri.
Jika dahulu surau mampu melakukan semua itu, pertanyaannya bukanlah apakah
surau masih ada. Pertanyaannya adalah, maukah kita menghadirkannya kembali, dalam
cara hidup kita hari ini?
Penulis: Suci Shawmy Febrita, M.Psi.,Psikolog
Dandy Noferman, S. Hum












